GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Wednesday, September 21, 2005

PADA TUMPUKAN JERAMI

Tidak ada yang menunggu harapan, Dinda.
Ketika kubuka jendela belakang rumahku
tampak sawah yang mengering ditutup dengan jerami
beberapa deret tumpukan tertata rapi
begitu pasrah memandang langit yang biru
tanpa bisa bersedih lagi
begitu sia-siakah tetesan keringat sang petani di musim ini.

Tidak ada yang menunggu harapan, Dinda.
Angin yang bertiup menggerakkan sekelompok lonceng,
menerobos keheningan yang barusaja sempurna.
Lalu bertanya kemanakah kehidupan sedang bergulir,
sedang ditengah-tengah sepetak tanah yang retak
lelaki tua itu duduk mengipasi tubuhnya dengan caping.

Aku hanya bisa berdoa,
saat melihat seorang lelaki lainnya sedang menghitung langkah
mengukur bentangan sawah itu.
Ya Tuhan.
Jangan biarkan si pembawa caping itu menyerah.

Dinda,
bahkan bila kau berdiri di sana
mungkin tak setetespun embun yang bisa kau berikan.