GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Sunday, May 09, 2004

CERITA TENTANG BULAN

Tiba-tiba kerinduan kepadamu menyerangku seperti sekelompok burung gagak yang lapar. Begitu kelam menyerbu ke sudut-sudut ingatanku yang lama tak tersentuh cahaya. Walaupun begitu aku tak percaya bahwa kerinduan adalah sesuatu yang tiba-tiba. Bahkan petirpun harus selalu didahului oleh awan, bukan?

Seperti secuil bulan sabit yang belum sampai tanggalnya, wajahmu bersembunyi di balik awan hitam ketika gerimis mulai turun. Mungkin bukan wajahmu benar. Mungkin hanya sesosok harapanku tentangmu. Udara yang dingin terhirup masuk membawa aroma yang susah kumengerti.

Ketika menutup pintu aku hanya punya harapan bahwa engkau benar-benar ada. Atau benar-benar tidak ada. Lalu aku tidur dengan tempat tidur yang bergantung di antara keduanya. Mimpiku sederhana: rembulan yang jernih, seperti kelereng pertama yang pernah kumainkan di masa kanak-kanak. Mimpi seorang lelaki bodoh ketika sekelompok uban mulai merayapi kepalanya.


Puncak, Bogor, 1 Mei 2004

0 Comments:

Post a Comment

<< Home