GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Thursday, November 27, 2003

ZIARAH

dilangitlangit kamarku hurufhuruf bertebaran membentuk kata
bersambungan dalam kalimat yang menyesakkan dada
kubaca namun tak kutahu artinya
(seperti nyanyian-nyanyian sakral yang kuindera
berabad ketika aku dalam rahim ibunda)

kubayangkan ribuan wajah dalam dongeng malamku;
- sementara diluar jendelaku sepasang kupukupu sedang bercumbu
pada kegetiran yang menyengat dalam semangat membeku
membuat ziarah ke masa lalu menelaga
(engkau adalah aku, ketika
bungabunga tak pernah membedakan warna)

debudebu didinding kamarku menggigil gemetar
ketika siasia mencari bayanganku yang musnah
ditelan kehampaan yang gulita
bahkan sebelum kita saling menyapa

bogor, nop 03


DEBU

masih adakah yang kita tunggu
stasiun ini telah lama membeku
kerna kereta terakhirpun sudah berlalu

tak kau inderakah itu
loncengpun mulai kehilangan talu
musim-musim merayap tanpa waktu
akankah kitapun memudar dalam ingatanmu
seperti bunga ditinggalkan warna
dan siang yang kehilangan cahaya

menari dalam kidung sunyi membisu
dibawah tatap mata yang tak mengenalku
kuingin menjadi debu dalam nadimu
menggetarkan setiap detak jantungmu

bogor, nop 03