GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Thursday, October 30, 2003

TELAGA

Apakah kejahatannya sesuatu yang tidak abadi
hanya menggenang di pintu asap
ketika tubuh meluruh menjadi benda tak berarti
perlawanan hanya neraka

hiruplah dan mengertilah
seribu malaikat mengusung nafasmu
ke dalam batin yang serakah
api harapan membakar
ilalang kesadaran

hiruplah dan mengertilah
seribu sebutan menipu khayalmu
di titik bara jantung ini
aku bertahta untukmu
terguncang kerinduan.


Belida, 30 Oktober 2003

Thursday, October 02, 2003

KELUARGA SURGA

Bertemu dengan kalian di simpang jalan ini
melelehkan rinduku kepada langit,
seperti gerimis pertama yang memercik
membasuh tanah retak mengering,
menggiring aroma mimpi
tentang suatu tempat yang diliputi awan.

Bila nanti kalian terus berjalan
menuju ke rumah impian itu
dan aku masih harus menunggu
membasuh sayapku yang patah
dan terluka oleh kerasnya peristiwa,
bahagia ini tak akan punah
terus bersisa sepanjang anganku.

Wahai kalian yang melintas dan membawakan kembali
ingatanku akan nyanyian yang damai
ribuan burung berwarna pelangi
dan bunga-bunga yang tumbuh tanpa prasangka
di tepian sungai itu aku temukan air mata
sebelum terjatuh dari kesucian ,
bagaimana aku harus berterima kasih
untuk kehangatan ini?

Bertemu dengan kalian di simpang jalan ini
menghidupkan nadiku yang telah lapuk
melawan gempuran roda sang waktu
membakar khayal usang menguning.
Di sini akan kubentang
wajah lautan lelah
dan kudendangkan kidung.


Belida, 5 September 2003.

TELAH DIPILIHKAN CINTA

Untuk sang putri embun


Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Sejenis cinta yang tak mungkin
Maka namamu pun menjadi mantra bagiku
Kubaca menjelang tidur dan melintasi mimpi

Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Sejenis cinta yang terindah
Tiada kutahu ke manakah jalan berujung
Biarlah sang waktu menyembuhkan pedih lukaku

Ke mana ujungnya ke mana rantingnya
Tak pernah kupikirkan
Karena cinta bukan pikiran
Nalarku tersumbat olehnya

Di dada menggenang telaga rinduku
Sekarang dan di sini
Api menyala lilin hasratku
Di jiwa terlahir bayangmu

Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Segenggam hasrat yang gelisah
Jika harapan yang mengental makin menyiksaku
Kuketuk khayalan maya dan membelai sepi

Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Setetes rindu dan puisi
Basuh lukamu dan sambutlah sang mentari
Kutuntun langkahmu perlahan mengalahkan waktu .


Belida, 7 Agustus 2003

LENTERA DI TAMAN HATI

Di tengah taman hati itu
Ada sebuah lentera yang cemerlang
Selubungnya adalah tetesan embun yang jernih
Memandarkan warna pelangi
Yang membias ke seluruh relung
Membangunkan setiap titik kegelapan

Dan kegelapan-kegelapan kecil pun malu
Berlarian menuju kelenyapan
Diiringi irama kidung pembebas
Dari setiap belenggu yang menghalangi
Membawa udara penyembuh
Bagi setiap luka terdalam

Dan bila malam menjelang
Sepasang kupu-kupu perak terbang
Bercengkerama ke sudut-sudut khayalan
Sambil memuji langit yang begitu pemurah
Menghadirkan keriangan sejenak
Bahkan bila itu semu
Enggan beranjak sang waktu

Maka kesedihan apa lagi yang masih tertinggal
Sedang kecemerlangan ini begitu sempurna
Ini bukan waktu untuk bertanya
Melainkan bersandar pelan
Dan mendengarkan degupan jantung
Yang bergelora seperti deburan ombak
Tak lelah membelai pantai waktu.



Belida, 30-07-03

SENJA YANG HAMPIR MUSTAHIL
DI PELABUHAN RATU

Langit berwarna merah tembaga
Ketika sepasang tangan bergandeng erat
Bercerita ribuan cerita tanpa bicara
Ombak sesekali bercanda dengan genit
Menggapai kaki yang berpasir basah

Kadangkala hidup begitu sempurna sampai kau tak ingin itu terjadi
Karena jika itu tak abadi kau akan menyesal tanpa henti
Dan engkau tahu waktu bergulir membawamu menembus teka-teki
Yang selalu muncul dan memecah seperti buih

Angin bertiup doa pujangga
Sandarkan kepala damai di dada resah
Nyanyian jantung mengalun harpa sang dewa
Wajah kekasihmu merona sinar bulan
Melukis mimpi yang membasuh duka

Tiba-tiba waktu menjadi tak nyata mengalir berputar ikut menggoda
Apakah kau hadir ataukah hanya berkhayal semata ataukah dia
Yang engkau tahu tangan yang bijak menuntunmu ke taman penuh bunga
Dan laramu musnah tak tersisa ke dalam malam

Waktu membeku luruh berderai
Memandang cemburu perahu di pantai
Remang kemerlip lentera bidadari
Memahat patung sepasang kekasih.




Belida, 31 Juli 2003