GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Tuesday, December 16, 2003

MAWAR MERAH

Apakah benar untuk sampai kepadamu
gerimis harus telah menetes
kupu-kupu lelah menari
dan duri-duri sempurna tumbuh?

Jika demikian akan kupersembahkan
setiap helai rambutku yang terputihkan oleh waktumu
menjadi dawai harpa untuk melantunkan
semua nyanyian peristiwa
tetes demi tetes titah langit
yang diterjemahkan dengan helai demi helai
yang tumbuh dari bumi.

Apakah benar untuk bening telagamu
persinggahan harus musnah
pengembara berjalan tanpa lentera
rimba raya melebur dedaunan

Jika demikian biarlah setiap denyutan
nadi menjadi pemeran kisah yang paling kau kehendaki
terhuyung terbanting bahkan terhambur di angkasa
semua milik hilang makna
mewakili awan tipis
yang diterbangkan oleh takdir
berlari tanpa diri.

Apakar benar untuk merindukanmu saja
ilalang harus terbakar habis
dan kelopak mawar terakhir
runtuh menghapus mimpi.

Dec. 16 2003