GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Thursday, October 02, 2003

SENJA YANG HAMPIR MUSTAHIL
DI PELABUHAN RATU

Langit berwarna merah tembaga
Ketika sepasang tangan bergandeng erat
Bercerita ribuan cerita tanpa bicara
Ombak sesekali bercanda dengan genit
Menggapai kaki yang berpasir basah

Kadangkala hidup begitu sempurna sampai kau tak ingin itu terjadi
Karena jika itu tak abadi kau akan menyesal tanpa henti
Dan engkau tahu waktu bergulir membawamu menembus teka-teki
Yang selalu muncul dan memecah seperti buih

Angin bertiup doa pujangga
Sandarkan kepala damai di dada resah
Nyanyian jantung mengalun harpa sang dewa
Wajah kekasihmu merona sinar bulan
Melukis mimpi yang membasuh duka

Tiba-tiba waktu menjadi tak nyata mengalir berputar ikut menggoda
Apakah kau hadir ataukah hanya berkhayal semata ataukah dia
Yang engkau tahu tangan yang bijak menuntunmu ke taman penuh bunga
Dan laramu musnah tak tersisa ke dalam malam

Waktu membeku luruh berderai
Memandang cemburu perahu di pantai
Remang kemerlip lentera bidadari
Memahat patung sepasang kekasih.




Belida, 31 Juli 2003

0 Comments:

Post a Comment

<< Home