GERIMIS UNGU

Seperti setetes air yang memandang lautan aku merindukan gerimis ungu yang menyanyikan kidung bidadari untuk kubawa dalam tidurku bila malam mulai menyiksa jadi katakanlah, mengapa aku tak mampu berhenti menunggumu? (untuk seorang gadis bernama Una,yang datang dan perginya menjadi sejuta puisiku)

Saturday, February 19, 2011

SETELAH 5 TAHUN

Apakah setelah 5 tahun blog ini masih bisa ditulisi?

Wednesday, September 21, 2005

PADA TUMPUKAN JERAMI

Tidak ada yang menunggu harapan, Dinda.
Ketika kubuka jendela belakang rumahku
tampak sawah yang mengering ditutup dengan jerami
beberapa deret tumpukan tertata rapi
begitu pasrah memandang langit yang biru
tanpa bisa bersedih lagi
begitu sia-siakah tetesan keringat sang petani di musim ini.

Tidak ada yang menunggu harapan, Dinda.
Angin yang bertiup menggerakkan sekelompok lonceng,
menerobos keheningan yang barusaja sempurna.
Lalu bertanya kemanakah kehidupan sedang bergulir,
sedang ditengah-tengah sepetak tanah yang retak
lelaki tua itu duduk mengipasi tubuhnya dengan caping.

Aku hanya bisa berdoa,
saat melihat seorang lelaki lainnya sedang menghitung langkah
mengukur bentangan sawah itu.
Ya Tuhan.
Jangan biarkan si pembawa caping itu menyerah.

Dinda,
bahkan bila kau berdiri di sana
mungkin tak setetespun embun yang bisa kau berikan.

Friday, March 11, 2005

BUKAN KERINDUAN

Apa yang menyembunyikanmu dariku?
Aku ingin berteriak melepas genggamannya.
Karena pengembaraanku yang telah sampai
di tepian sungai-sungai surga
tak lagi menemukan wajahmu
yang belum pernah kusaksikan.

Apa yang menyembunyikanmu dariku?
Butir-butir malam telah jatuh menimpa mimpiku.
Sejuta kali mantera namamu tersangkut ranting
yang sedang termangu memandangi bulan.
Barangkali itulah wajahmu,
yang menahan mimpi membiarkanku
menjaga kehidupan
yang telah tertata.

Apa yang menyembunyikanmu dariku?
Mengapa tak kau kirimkan sehelai sapu tangan,
sebagai tanda jejak yang kau hentikan.
Dengan apa aku harus melacak sang puteri
yang tertidur di atas embun pagi.

Apa yang menyembunyikanmu dariku?
Sehingga suaraku terpantul dari setiap tarian debu.
Bagaimanakah kau akan bisa tahu
jiwaku masih terbenam
di telagamu yang ungu.


laut yang setia, 11 Maret 2005

Friday, August 06, 2004

KUPU-KUPU

Kupu-kupu itu telah jadi kau
sayapnya menjadi aku dalam senyap
menyaksikan dari tiada menjadi tiada
seperti datangmu menjadi pergimu
dentang jantung mengiringinya
tarian waktu yang berjinjit
perlahan wajahmu menjadi tipuan
jika percaya hanyalah cara mengingat
keraguan adalah cara melupakan
terbakar gambarmu menjadi abu
tertabur di danau keheningan
di mana aku adalah di mana.

belida, hari ini

Tuesday, July 06, 2004

SELAMAT MALAM ADINDAKU

Selamat malam adindaku,
dari belahan bumi yang lain aku menyapa angin
yang mungkin akan membawa kata-kataku melintasi
lautan keinginan untuk bertemu.

Di sini aku ditemani sekawanan rusa
dan segenap kebimbanganku
sementara embun pagi enggan bergulir
sekuntum bunga liar di kebun
bercanda dengan waktu.

Selamat malam adindaku,
semoga waktumu telah seperti
kupu-kupu beraneka warna
yang dikejar bocah kecil dengan riang.


Purple Sage Ranch, Texas
14 Juni 2004

Sunday, May 09, 2004

CERITA TENTANG BULAN

Tiba-tiba kerinduan kepadamu menyerangku seperti sekelompok burung gagak yang lapar. Begitu kelam menyerbu ke sudut-sudut ingatanku yang lama tak tersentuh cahaya. Walaupun begitu aku tak percaya bahwa kerinduan adalah sesuatu yang tiba-tiba. Bahkan petirpun harus selalu didahului oleh awan, bukan?

Seperti secuil bulan sabit yang belum sampai tanggalnya, wajahmu bersembunyi di balik awan hitam ketika gerimis mulai turun. Mungkin bukan wajahmu benar. Mungkin hanya sesosok harapanku tentangmu. Udara yang dingin terhirup masuk membawa aroma yang susah kumengerti.

Ketika menutup pintu aku hanya punya harapan bahwa engkau benar-benar ada. Atau benar-benar tidak ada. Lalu aku tidur dengan tempat tidur yang bergantung di antara keduanya. Mimpiku sederhana: rembulan yang jernih, seperti kelereng pertama yang pernah kumainkan di masa kanak-kanak. Mimpi seorang lelaki bodoh ketika sekelompok uban mulai merayapi kepalanya.


Puncak, Bogor, 1 Mei 2004

Friday, January 16, 2004

DI SERAMBI SENJA

Kerinduan itu berkumpul seperti anak-anak ayam
sibuk mengais kenangan di halaman
dan butir-butir kata satu demi satu tertelan
tapi dadaku telah menjadi kapas
nafasku mengalir bersama ombak
dan matahari ranum berkedip gelisah

Bahkan jika langit menghentikan kata-kataku
akan kutumpuk puisi menjadi sebongkah
luka baru yang nikmat seperti
alunan irama daun diterbangkan angin

Belida 16 Januari 2004